hai teman-teman ku dan family ku setanah air
Just another Blogdetik.com weblog
 
 
Pusat Perbelanjaan Mentaya SAMPIT tampak nya hingga kini selalu di ramaikan pengunjung meski pun BBM telah naik
Posted on Juli 7th, 2008 at 10:54 pm by mega and

ppm.jpg

Jangan Sekali-Kali jatuh Cinta,Kau Tak Akan Suka
Posted on Juli 7th, 2008 at 10:47 pm by mega and

cimg1982.jpg

Kalimat di atas, tidak semata-mata dalam konteks asmara . Karena definisi cinta sangat banyak dan rumit, tergantung objek yang disinggahi. Cinta bisa datang kepada siapa saja, apa saja dan kapan saja.

Urutan pertama paling populer dari definisi kata cinta bisa jadi adalah untuk hubungan asmara antara pria dan wanita dewasa. Nominasi kedua mungkin adalah cinta kepada keluarga, selanjutnya berturut-turut, patriotisme; cinta pada negara, nasionalisme; cinta pada bangsa dan terakhir yang sekarang lagi ngetren cinta pada diri sendiri, narsisme!

Sepasang insan yang berkomitmen untuk saling mencinta, masing masing memiliki keinginan, harapan dan tuntutan atas pasangannya. Sang pria ingin wanitanya selalu terlihat cantik, selalu disampingnya, selalu memperhatikannya, selalu ingat padanya dan lain lain, dan lain sebagainya, pokoknya semua hal yang membuat hatinya senang dan puas. Sekali saja dia melihat kekasihnya bersama pria lain, dia tak akan suka! Apa yang akan terjadi? Macam-macamlah, bisa saja sang pria akan menginterograsi, memarahi, mungkin juga menangis, atau lebih kasar lagi sang wanita akan ditampar!

Kok, gitu sih? Katanya cinta? Ya, itulah cinta. Di balik keagungan cinta yang memberikan dan menjanjikan kenikmatan, cinta mengandung ekspektasi atau harapan yang kaku, tidak fleksibel, dan tanpa reserve. Sedikit saja tergores, sakitnya seperti luka yang menganga! Tidak ada yang suka terluka. Apalagi bila rasa cinta itu dimiliki secara massal, bencana yang akan tiba.

Lihat saja ketika cinta bangsa ini terluka, ketika seni dan budaya warisan nenek moyang diakui oleh negara tetangga sebagai budaya mereka, tidak ada yang suka.

“Ganyang Malaysia !” teriak ribuan seniman reog Ponorogo.

“ Malaysia tidak punya malu,” kata seniman pembuat angklung.

Patriotisme membara, nasionalisme bangun dari tidur, akibat pemangku mandat, pengelola kekuasaan negara ini lalai menjaga cinta.

Masih urusan cinta, mari kita amati carut-marut negara ini akibat banyak orang “jatuh cinta” (mungkin) tidak pada tempatnya. Tengoklah proses pilkada di mana-mana, penuh protes, anarkis, karena kandidat yang dicintai gagal meraih kemenangan. Mereka tidak suka kekalahan.

Lihatlah seorang koruptor di pengadilan, tanpa malu-malu menyatakan dirinya tidak bersalah. Dia tidak suka disalahkan.

Lihat lagi, seorang abdi negara marah, ketika korps kepolisian tempatnya bernaung diobok-obok seorang seniman panggung. Walau fakta nyata, dia tidak suka diungkit.

Bayangkan lagi wajah almarhum Munir & Almarhum Abi Kusno, yang cinta damai dan tidak suka tindak kekerasan, harus pergi selamanya akibat sindirannya yang tajam, karena ada yang tidak suka pada mereka,

Penguasa, koruptor, calon penguasa, polisi, siapapun, ketika sudah jatuh cinta kepada apa yang sedang dilakukannya, tidak masalah benar atau salah, tidak ada satupun yang suka “cinta”-nya diganggu. Bahkan mereka akan balik mengganggu sang pengganggu, mumpung masih memakai topeng kewenangan. Karena mereka merasa paling benar, huh, narsis………!

Itu hari ini, mendatang mungkin kita akan lihat rombongan pencuri tanpa malu malu berdemo karena barangnya dicuri. Koruptor berteriak karena hartanya dari hasil korupsi, dikorup pegawainya.

Tidak ada larangan jatuh cinta. Anda yang sedang dilanda cinta saat ini, apakah saya menyinggung Anda? Saya minta maaf. Saya takut Anda tidak suka dengan saya.

Bagi Anda yang belum mencintai apapun, masih beranikah jatuh cinta?………..!

Cinta Dan Kesetiaan
Posted on Juli 7th, 2008 at 10:10 pm by mega and

Cinta Dan Sesuatu Kesetiaan

Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.
Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif.
Hingga Jutaan bahkan mungkin miliaran karya seni dari abad ke abad menyenandungkan cinta dan kesetiaan. Cinta dan kesetiaan melahirkan hidup dan kehidupan baru.
Orang gembel – atau pun kaya, butuh cinta dan kesetiaan.
Orang kasar – atau romantis, juga mendambakan cinta-kesetiaan
Orang jahat (menurut penilaian umum) – dan kaum agamawan pun menginginkan cinta-kesetiaan. Manusia dan alam semesta menyenandungkan harmoni cinta dan kesetiaan secara universal – bebas dari SARA.
Cinta dan Kesetiaan – dua sisi dalam satu mata keping yang tidak terpisahkan. Cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong. Dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan. Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih.
Cinta bermakna amat luas sebebas kesetiaan. Para pemikir barat klasik bahkan sampai memilah-milah arti dan perwujudan cinta ke dalam beberapa istilah. Ada eros untuk cinta bernuansa erotis dan romantis yang lebih bersifat fisik. Ada philia – sebuah cinta bernuansa kasih persaudaraan persahabatan. Dan ada pula agape untuk cinta yang bersifat spiritual – cinta kepada Sang Pencipta Mahakuasa dan sesama. Dan inilah level cinta tertinggi.
Masih ada banyak wujud cinta dan kesetiaan. Sebut saja, cinta kepada tanah air, cinta diri sendiri atau narsis dan ada storge cinta pada keluarga.
Ada apa dengan cinta dan kesetiaan?
Cinta dan Kesetiaan tak selalu dipahami secara utuh dewasa. Makna cinta dan kesetiaan yang harmonis indah, kerap diseret ke dalam pemahaman yang sempit gelap demi kepentingan pribadi.
Dunia sosial politik kekuasaan dengan para aktornya sering menyeret cinta dan kesetiaan yang suci tulus ke dunia yang sempit dangkal. Maka lahirlah kaum penjilat dan loyalis semu. Kelompok ini ada dan hidup di mana-mana – di sekitar kita hingga detik ini.
Banyak contoh di mana penguasa dan kaum loyalis suatu ideologi (parpol) yang sedang berkuasa menindas yang lemah mengabaikan makna cinta dan kesetiaan. Bahkan lebih jauh, telah membawa cinta dan kesetiaan ke dalam lahan tindak anarkhis kriminal.dan Penyelewengan kayu illegal logging seperti di SUKAMARA terhadap makna cinta dan kesetiaan, akan melahirkan ketidakadilan bahkan pengkhianatan terhadap nilai inti kehidupan: welas asih yang harmonis.
Dulu di daratan Eropa, sejarah cinta mencatat Kaisar Claudius II telah membunuh energi cinta kaum muda. Para pemuda (pasangan muda) dilarang melakukan perkawinan. Sang Kaisar bertitah, kaum muda dengan energinya yang perkasa lebih tepat jadi tentara untuk kepentingan perang. Pasangan kaum muda dilarang keras melakukan perkawinan.
Seorang filsuf humanis yang juga rohaniwan, Valentine menentang kebijakan kaisar dengan menikahkan pasangan-pasangan muda yang sedang mabuk cinta. Valentine pun lalu dihukum mati karena dianggap melawan titah kaisar.
Di negeri kita ini banyak kelompok orang yang cepat “emosi” ngamuk bergaya barbar ketika ada kelompok lain yang berbeda, tidak sewarna, sepaham – sealiran – seideologi. Saling serang secara fisik dan saling menyakiti. Yang lebih mengerikan lagi jika membawa-bawa dan mengatasnamakan TUHAN – Sang Maha Kuasa – Pencipta – Maha Pengampun dan Sang Maha Welas Asih untuk merusak, menyakiti, dan membunuh sesama hanya karena berbeda. Memangnya, siapa manusia? (Siapa Sih Lu?). Di ruang yang lebih kecil, contoh nya di kantor Organisasi Seperti di KOTAWARINGIN BARAT, orang yang tidak senada seirama ditekan, dan disingkirkan bahkan dibunuh kharakternya.
Negeri ini sejatinya bukan hanya sedang dilanda sakit kemiskinan dan kebodohan yang parah, tapi juga sedang mengidap sakit pengkhianatan cinta dan kesetiaan terhadap hidup harmonis dan welas asih.  (Hendra-Mega)

Akhirnya Batik Diapresiasi…
Posted on Juli 7th, 2008 at 10:02 pm by mega and

Batik, satu dari sekian banyak kekayaan budaya di Indonesia. Dulu orang mengenal batik sebagai barang kuno, dan kebanyakan digunakan sebagai kain gendongan yang digunakan oleh ibu-ibu atau bahkan nenek kita. Namun Jarang sekali kaum muda yang mengenakan batik. Bahkan batik hanya digunakan untuk acara-acara resmi atau acara tertentu saja.

 

Tapi kini, anda juga mungkin merasakan dan melihat secara langsung, batik kini telah digunakan oleh banyak kalangan. Seolah olah batik sedang berada dipuncak kejayaannya. Orang berlomba-lomba mengenakan batik, pria, wanita, tua, muda. Tidak hanya masyarakat biasa, batik juga sudah merambah kekalangan artis. Dengan berbagai macam alasan mereka menggunakan batik.

 

Ada yang sekedar mengikuti tren. Seperti yang saya kutip dari seorang artis, “Iya sih, tadi nya kan batik ini udah old fashion, punya ibuku. Tapi sekarang lagi musim, ya aku pakai aja…”.

 

Ada juga yang berdalih melestarikan kekayaan budaya. Ada yang mengaitkan ini dengan kebangkitan nasional, batik ditandai sebagai kebangkitan budaya.

 

Akhirnya batik tidak lagi menjadi busana kuno dan pakaian resmi saja, tapi menjadi busana yang mendominasi dunia fashion tahun 2008.

 

Apakah benar ini kebangkitan budaya yang penuh semangat nasionalisme? Atau hanya sekedar tren fashion untuk satu tahun saja lalu tenggelam? Atau hanya karena kecermatan pebisnis melihat peluang bisnis yang lumayan menjanjikan?

 

Tapi apapun itu, paling tidak secara tak langsung para pengguna batik ini telah menyelamatkan salah satu kekayaan budaya kita yang nyaris dicuri bangsa lain.

 

Serta yang terpenting, para pengguna batik, secara sadar dan tidak sadar telah mengapresiasi hasil karya pengrajin batik di daerah-daerah yang selama bertahun-tahun nyaris tidak pernah merasakan hasil karya mereka benar benar dihargai.

 

Terimakasih mbah, ibu di Solo, Yogyakarta, Cirebon, Pekalongan dan di manapun yang terus menyumbangkan karya-karya indahnya untuk kebudayaan bangsa ini. (Hendra-Mega)