Posted on Juli 7th, 2008 at 10:47 pm by mega and

Kalimat di atas, tidak semata-mata dalam konteks asmara . Karena definisi cinta sangat banyak dan rumit, tergantung objek yang disinggahi. Cinta bisa datang kepada siapa saja, apa saja dan kapan saja.
Urutan pertama paling populer dari definisi kata cinta bisa jadi adalah untuk hubungan asmara antara pria dan wanita dewasa. Nominasi kedua mungkin adalah cinta kepada keluarga, selanjutnya berturut-turut, patriotisme; cinta pada negara, nasionalisme; cinta pada bangsa dan terakhir yang sekarang lagi ngetren cinta pada diri sendiri, narsisme!
Sepasang insan yang berkomitmen untuk saling mencinta, masing masing memiliki keinginan, harapan dan tuntutan atas pasangannya. Sang pria ingin wanitanya selalu terlihat cantik, selalu disampingnya, selalu memperhatikannya, selalu ingat padanya dan lain lain, dan lain sebagainya, pokoknya semua hal yang membuat hatinya senang dan puas. Sekali saja dia melihat kekasihnya bersama pria lain, dia tak akan suka! Apa yang akan terjadi? Macam-macamlah, bisa saja sang pria akan menginterograsi, memarahi, mungkin juga menangis, atau lebih kasar lagi sang wanita akan ditampar!
Kok, gitu sih? Katanya cinta? Ya, itulah cinta. Di balik keagungan cinta yang memberikan dan menjanjikan kenikmatan, cinta mengandung ekspektasi atau harapan yang kaku, tidak fleksibel, dan tanpa reserve. Sedikit saja tergores, sakitnya seperti luka yang menganga! Tidak ada yang suka terluka. Apalagi bila rasa cinta itu dimiliki secara massal, bencana yang akan tiba.
Lihat saja ketika cinta bangsa ini terluka, ketika seni dan budaya warisan nenek moyang diakui oleh negara tetangga sebagai budaya mereka, tidak ada yang suka.
“Ganyang Malaysia !” teriak ribuan seniman reog Ponorogo.
“ Malaysia tidak punya malu,” kata seniman pembuat angklung.
Patriotisme membara, nasionalisme bangun dari tidur, akibat pemangku mandat, pengelola kekuasaan negara ini lalai menjaga cinta.
Masih urusan cinta, mari kita amati carut-marut negara ini akibat banyak orang “jatuh cinta” (mungkin) tidak pada tempatnya. Tengoklah proses pilkada di mana-mana, penuh protes, anarkis, karena kandidat yang dicintai gagal meraih kemenangan. Mereka tidak suka kekalahan.
Lihatlah seorang koruptor di pengadilan, tanpa malu-malu menyatakan dirinya tidak bersalah. Dia tidak suka disalahkan.
Lihat lagi, seorang abdi negara marah, ketika korps kepolisian tempatnya bernaung diobok-obok seorang seniman panggung. Walau fakta nyata, dia tidak suka diungkit.
Bayangkan lagi wajah almarhum Munir & Almarhum Abi Kusno, yang cinta damai dan tidak suka tindak kekerasan, harus pergi selamanya akibat sindirannya yang tajam, karena ada yang tidak suka pada mereka,
Penguasa, koruptor, calon penguasa, polisi, siapapun, ketika sudah jatuh cinta kepada apa yang sedang dilakukannya, tidak masalah benar atau salah, tidak ada satupun yang suka “cinta”-nya diganggu. Bahkan mereka akan balik mengganggu sang pengganggu, mumpung masih memakai topeng kewenangan. Karena mereka merasa paling benar, huh, narsis………!
Itu hari ini, mendatang mungkin kita akan lihat rombongan pencuri tanpa malu malu berdemo karena barangnya dicuri. Koruptor berteriak karena hartanya dari hasil korupsi, dikorup pegawainya.
Tidak ada larangan jatuh cinta. Anda yang sedang dilanda cinta saat ini, apakah saya menyinggung Anda? Saya minta maaf. Saya takut Anda tidak suka dengan saya.
Bagi Anda yang belum mencintai apapun, masih beranikah jatuh cinta?………..!